Saturday, 15 April 2017

Luarbinasa! Simpatisan Anies Usir Djarot dari Masjid, Padahal Setan Pun Takut


AJHAIB.COM-- Baru saja saya melihat video pengusiran Djarot dari masjid jami al-atiq di Tebet, Jakarta Selatan. Beberapa media juga sudah memberitakannya. Beberapa penulis Seword sudah menanggapi. Dan saya juga sangat terdorong untuk menanggapi sikap-sikap jahiliyah tersebut.
Jemaah mengusir Djarot usai Shalat Jumat

Penolakan ummat muslim Jakarta terhadap Djarot sebenarnya sudah pernah terjadi pada saat acara haul Soeharto di masjid at tin. Dan itu artinya pengusiran Djarot dari masjid al-atiq merupakan kejadian yang kedua. Kejadian sangat memprihatinkan yang menunjukkan betapa hanya untuk urusan politik, ada orang-orang yang menyalah gunakan masjid.

Menurut saya, akar masalah dari pengusiran dan sikap-sikap biadab ini sebenarnya karena doktrin negatif dan kebencian terhadap orang-orang yang berbeda pilihan politik sudah terlanjur tertanam.

“Mereka yang memilih pemimpin seorang nasrani atau yahudi itu orang munafik. Bila kita memilih orang non muslim sementara ada orang muslim sebagai pilihan, itulah kita dicap jadi seorang munafik,” ujar seorang jamaah yang menggunakan mikrophone.

Pidato atau khutbah jumat sejenis itu sudah ada sejak Ahok resmi dinyatakan maju sebagai Calon Gubernur. Selama berbulan-bulan terus diulang setiap jumatan, dan kalau sekarang terjadi penolakan atas nama kebencian kepada lawan politik, itu hanyalah buahnya, atau konsekuensi logis dari khutbah jumat penuh kebencian yang sudah diserukan selama berbulan-bulan lamanya.

Yang menarik di sini adalah, khutbah jumat yang merupakan seruan-seruan pergerakan tersebut sangat sesuai dengan materi ceramah Eep Saifullah Fatah yang merupakan timses Anies Sandi. Eep pernah bercerita di Aljazair, partai FIS berhasil menang karena di setiap khutbah atau ceramah selalu diselipkan kalimat seruan.

“Jadi semua ulama, khatib yang mengisi ceramah-ceramah di masjid, termasuk dan terutama shalat jumat, bukan hanya menyerukan ketaqwaan, tapi dilanjutkan dengan seruan-seruan politik. Tetapi bukan seruan partisan. Kalau seruan partisan itu gini, pilih si A jangan pilih si B. Itu partisan. Bukan seruan itu yang disuarakan.

Jadi setelah khotib mengatkan ittaqullah…ittaqullah…ittaqullaha haqqa tuqatihi dan seterusnya, khotib menyampaikan: hai kalian ummat Islam, kalian punya hak. Tidak ada orang lain yang akan menjaga dan menegakkan hak itu kecuali kalian sendiri. Kalian tidak bekerja, hanya menunggu, maka hak itu tidak akan tegak. Jemput dan rebut hak itu. Bertumpu pada diri sendiri jangan bertumpu pada orang lain siapapun dia. Kecuali para pemimpin yang kalian percaya. Kalau ada pihak yang mencederai hak itu, maka lawan dengan sebagaimana Islam mengajarkan.

Terus menerus disampaikan, ketika hari pencoblosan ternyata melekat. Dan tanpa uang, tanpa jaringan yang kuat, FIS bisa memenangkan,” itu kata Eep Saifullah Fatah yang merupakan konsultan serta timses Anies Sandi.

Dan kenyataan yang kita lihat selama beberapa bulan terakhir di masjid-masjid Jakarta, para khotibnya menyerukan suara-suara politik “larangan memilih pemimpin kafir.” Persis seperti ceramah Eep. Para khotib itu tidak sedikitpun menyerukan suara partisan pilih Anies dan jangan pilih Ahok, tidak. Mereka begitu terstruktur, sistematis dan massif menyerukan suara politik dalam khutbah-khutbahnya.

Jadi kalau ada yang bertanya siapa biang kerok dari khutbah-khutbah politik selama beberapa bulan terakhir, maka yang paling pantas untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Prabowo dan tim suksesnya: Eep Saifullah Fatah. Karena tentu bukan sebuah kebetulan kalau apa yang terjadi di masjid-masjid Jakarta, begitu sejalan dengan materi ceramah Eep. Bahwa kemudian tim Anies mengatakan ceramah itu ada jauh sebelum pasangan resmi terbentuk, itu bukan sebuah bantahan, melainkan sebuah konfirmasi bahwa apa Eep sudah mengatakannya lebih dulu sebelum adanya khutbah politik.

Inilah akar seruan politik dalam khutbah jumat yang begitu sejalan dengan analisis kemenangan FIS di Aljazair, yang disampaikan oleh timses Anies Sandi.
Jemaah mengusir Djarot usai Shalat Jumat

Iblis tak pernah mengusir muslim dari masjid
Dalam analisis sederhana saya, pengusiran terhadap Djarot dari masjid, merupakan buah dari ditanamnya seruan politik dalam khutbah jumat selama berbulan-bulan. Anda para pembaca boleh berbeda pendapat dan membantahnya, hanya jika mampu memberikan bukti lebih akurat dari tulisan saya. Jika tidak, maka terima saja ini sebagai kenyataan tak terbantahkan.

Pengusiran seorang Djarot, muslim taat dan sudah melengkapi rukun Islamnya dengan menunaikan ibadah haji, merupakan sebuah peristiwa sejarah yang begitu penting bagi peradaban manusia.

Setau dan seingat saya, belum pernah ada kelompok orang yang berani mengusir seorang haji dari masjid. Bahkan iblis pun tidak mampu mengusir seorang muslim dari masjid. Jika ini salah, silahkan dikoreksi dalam kolom komentar.

Seorang iblis dan syetan, yang memang mendapat tugas atau ditugaskan oleh Tuhan untuk mengganggu manusia, tidak pernah bisa mengusir seorang muslim dari dalam masjid dengan cara menakut-nakuti atau menunjukkan wujudnya. Tidak pernah. Iblis dan syetan hanya berani mengganggu, bukan mengusir secara lantang. Sebab masjid adalah rumah Tuhan. Tidak ada iblis atau syetan yang berani macam-macam dengan bertindak berlebihan.

Tapi menariknya, di Jakarta, kelompok pendukung Anies mengacungkan salam oke oce, sambil berteriak lantang Allahuakbar mereka mengusir seorang Haji Djarot dari masjid. Luar biasa. Ini artinya para pendukung Anies ini mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mampu dilakukan oleh iblis atau syetan.

Dan sekali lagi, jika ada yang bertanya mengapa pendukung Anies bersikap seperti itu, saya meyakini dan menyimpulkan bahwa itu semua karena seruan politik yang sudah diulang-ulang selama berbulan-bulan terkait larangan memilih pemimpin nonmuslim.

Jika ada yang bertanya mengapa seruan memilih pemimpin muslim hanya ada di Jakarta? Menurut saya karena Eep hanya menjadi timses Anies Sandi di Pilgub DKI, bukan Pilkada daerah lain.

Tapi kalau ada yang bertanya siapa yang paling bertanggung jawab atas moral dan sikap-sikap iblis yang ditunjukkan oleh pendukung Anies? Saya kurang bisa menjawab dengan pasti. Sebab melibatkan banyak pihak. Dari mulai konsultan seperti Eep, khatib jumat, takmir masjid, sampai orang-orang bodoh yang buta agama.

Terakhir, bagaimanapun ini sudah terjadi. Bahwa Anies Sandi membantah mereka tidak terlibat dengan kampanye negatif seperti itu, menurut saya hanyalah omong kosong belaka. Ilmu seruan politik dalam khutbah jumat, serta kelompok orang yang berteriak allahuakbar setiap menitnya, keduanya merupakan elemen tak terpisahkan dari tim sukses Anies Sandi.

Dan saya melihat ini merupakan kejadian yang sangat luar biasa. Sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban manusia, ada sekolompok orang yang hanya karena urusan politik, mampu dan berani bertindak jauh lebih dari yang mampu dilakukan oleh iblis dan syetan.

Begitulah kura-kura. (sc)

Thursday, 30 March 2017

Marak Berita Fitnah Pecalang Pukul Warga Hendak Sholat, Ini Kejadian Sebenarnya

AJHAIB.COM-- Marak di sosial media beredar berita fitnah dan provokasi terkait kejadian seorang pecalang dipukuli warga saat melaksanakan tugas pengamanan Nyepi di kawasan perumnas monang-maning, Denpasar, Bali.
Kedua belah pihak sepakat berdamai
Pada berita fitnah itu dengan provokatif sebuah media memutarbalikan fakta dan menghasut dengan memberitakan seolah-olah "seorang mualaf bernama Putu Abdullah dipukuli oleh polisi tradisional Bali (Pecalang) saat sholat." Padahal kejadian sesungguhnya tidak demikian. Justru pecalang dipukul hingga terjatuh ke tanah. Berikut ini adalah kronologis kejadian yang sebenarnya:

1 . Pada tanggal 28 Maret 2017 pkl 12. 30 WITA di jln. Kali mutu banjar samping buni Denpasar telah terjadi keributan antara warga dengan pecalang.

2 . Pihak yang terlibat dalam kejadian keributan antara pecalang Br. Samping Buni atas nama I Ketut Warta, Hindu, 53 tahun, alamat jl. imam bonjol, Gang mahkota no. 96 Depasar dengan I Putu abdullah, islam, 37 tahun, alamat jl. pura demak Denpasar. (anggota jamaah yayasan arraudah jl. Kalimutu dps)

3 . Saksi - saksi :
a. Oka wiratna, pecalang br. Samping buni.
b. I made subrata, ketua lingkungan br. Samping buni dps.
c. Kt landra, pecalang br. Samping buni.
d. Kepala desa Pemecutan Klod
e. Ketua Masjid Baiturahman Monang Maning
f.  Babinkamtibmas dan Babinsa.

4. Adapun Kronologis kejadian sebagai berikut:
- Menurut keterangan para saksi bahwa yg diduga pelaku Putu abdullah, bersepeda gayung dari pura demak ke arah jl. gang Kalimutu monang maning yg berjarak kl 1,5 km, kemudian diberhentikan oleh pecalang Ketut Warta, setelah ditanya identitasnya ternyata tidak bisa menunjukan kepada pecalang. Dan Putu Abdullah menjawab akan sembahyang di jl. Gn. kalimutu di yayasan Arraudah dengan nada marah, karena merasa akan melaksanakan sembahyang dihalang-halangi oleh pecalang kemudian Putu Abdullah memukul pecalang Ketut Warta hingga terjatuh.

- Kemudian oleh klian adat Br. Samping Buni, Putu Abdullah diajak berbicara ditempat yg teduh di depan toko, tetapi Putu Abdullah malah memukul klian Banjar Samping Buni tetapi dapat dihindari dan mengenai rolling door toko hingga penyok, sehingga para pecalang yang lain emosi dan ikut mengeroyok Putu Abdullah. Yang mengakibatkan sdr Putu Abdullah mengalami luka lecet di dahi kanan.

- Kemudian yang diduga korban dan pelaku di bawa ke Rumah sakit Sanglah dengan menggunakan ambulan PMI untuk dilakukan tindakan medis, setelah mendapat pengobatan kedua belah pihak bisa dipulangkan.

5 . Langkah yang dilakukan:
Setelah dilakukan mediasi di Subsektor monang maning oleh Kanit reskrim polsek denbar dan kasubsektor monang maning, yang di hadiri oleh ketua masjid baiturrahman monang maning, tokoh masyarakat banjar buagan, babinkamtibmas dan babinsa desa pemecutan klod kepala desa pemecutan klod, klian dinas br. Samping buni, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan secara kekeluargaan, dengan membuat surat pernyataan damai.
Kedua belah pihak sepakat berdamai
Demikian kejadian yang sesungguhnya agar semua warga mencermati dengan benar. Himbauan kepada media manapun, agar tidak menyebarkan berita secara sepihak tanpa konfirmasi kepada semua pihak.

Ini isu sensitif dan sudah ditangani dengan baik untuk menjaga hubungan baik antar umat beragama di Bali yang telah terbina selama ini. Jangan ada lagi yang memelintir untuk mencari sensasi.

Tuesday, 28 March 2017

Heboh Video Ular Piton Mangsa Petani Sawit di Sulawesi Barat

AJHAIB.COM-- Heboh beredar sebuah video yang memperlihatkan ular piton raksasa memangsa petani sawit bernama Akbar (25). Petani sawit ini tewas dimangsa binatang buas yang juga dikenal sanca kembang itu.
Ular piton raksasa memangsa petani sawit
Jasad Akbar ditemukan utuh di perut ular yang ditangkap warga di kebun sawit korban, Desa Salubiro, Kecamatan Korossa, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Senin (27/3/2017).

Ular memangsa mulai kepala hingga kaki Akbar. Posisi kaki korban di lambung ular lebih dekat rongga mulut ular.

Sebaliknya, kepala mayat sejurus kloaka ular atau searah ekor. Celana pendek dan kaos yang dikenakan Akbar juga masih utuh ditelan ular.

Kondisi mayat terlihat demikian setelah warga membelah ular piton tersebut. Simak videonya:
loading...